You need to enable javaScript to run this app.

DOSEN STIE KARYA MELAKUKAN PEMBERDAYAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN TUJUAN MENGOPTIMALISASI PENGELOLAAN HASIL UMKM DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN EKONOMI LOKAL

  • Jum'at, 28 November 2025
  • Administrator
  • 0 komentar

Sejumlah Dosen dan Mahasiswa STIE Karya Ruteng melaksanakan kegiatan pengabdian berbasis Masyarakat di UMKM Cafetaria Tentang Ndoso. Kegiatan yang dibiayai oleh DRTPM Kemristekbud ini berjudul Optimalisasi Pengelolaan Gula Aren, Jahe, Temulawak.

Menurut peneliti ini, Gula Aren, Jahe, Temulawak merupakan komoditi masyarakat Flores-Manggarai yang secara nyata membantu masyarakat local untuk memperdayakan kehidupan mereka. Beberapa komoditi ini dijual secara tradisional di pasar-pasar rakyat dan atau ke pengempul dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini mempersempit ruang kesejahteraan bagi petani yang menggantungkan hidup pada hasil bumi. Dengan adanya situasi ini, Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Gereja Katolik Paroki St. Fransiskus Asisi-Tentang membentuk UMKM berbasis kelompok masyarakat dengan semangat pemberdayaan kepada masyarakat.

Permasalahan yang dihadapi oleh UMKM ini adalah kondisi pertumbuhan yang lamban sementara permintaan pasar yang tinggi. Sehingga menimbulkan gap antara persediaan dan permintaan. UMKM Cafetaria memiliki persediaan yang rendah karena keterbatasan bahan baku, keterbatasan alat produksi, dan perhitungan HPP yang belum efisien.

Keterbatasan bahan baku disebabkan UMKM Cafetaria belum memiliki kemitraan dengan petani jahe, temulawak, dan air nira yang dapat menyediakan bahan baku secara konsisten dan berkelanjutan baik kualitas maupun kuantitas. Komoditi-komoditi ini dijual secara tradisional di pasar dan atau ke pengepul yang membeli dengan harga yang lebih murah. Sedangkan, UMKM memerlukan bahan baku berkualitas baik dari hasil pertanian organik dan dalam jumlah yang banyak untuk dapat memenuhi permintaan pasar. Berdasarkan kondisi ini solusi yang diberikan berupa membuat sistem kemitraan dengan petani jahe, temulawak, dan air nira. Manajemen persediaan berbasis kemitraan menjadi salah satu alternatif strategi yang tepat untuk menjangkau ketersediaan bahan baku dari petani dengan jaminan sikap konsistensi dan berkelanjutan. Melalui Langkah ini, diupayakan satu sistem implementasi inventarisasi atau kontrol persediaan melibatkan pemesanan, pelacakan, dan pemantauan persediaan melalui sharing knowledge.

Keterbatasan alat produksi disebabkan rendahnya produksi membuat UMKM Cafetaria tidak melakukan pengadaan alat produksi baru dan tetap menggunakan alat produksi yang terbatas dan disesuaikan dengan kuantitas bahan baku yang tersedia. Hal ini bertolak belakang dengan situasi dimana permintaan konsumen yang tinggi, selain konsumen lokal maupun konsumen dari pulau Jawa dan DKI Jakarta. Saat ini, secara faktual UMKM Cafetaria memang belum sepenuhnya siap memenuhi permintaan konsumen, tim dan mitra mengkontruksi satu pemahaman bersama bahwa untuk memenuhi permintaan tersebut. Mitra memerlukan support system berupa penambahan alat produksi berupa mesin giling jahe dan temulawak, mesin grinder jahe dan temulawak, mesin penepung, mesin dryer/pengering, mesin pengoyak, mesin pengemasan serta kuali dan prasarana lainnya untuk pengolahan nira menjadi bubuk gula merah. Potensi bahan baku yang konsisten sebetulnya menjadi fondasi giat meningkatkan kapasitas produksi.

Perhitungan HPP yang belum efisien disebabkan UMKM Cafetaria memiliki keterbatasan pengetahuan tentang cara menghitung HPP. Manajemen dan anggota UMKM adalah biarawan katolik dan orang muda katolik yang memang tidak memiliki kualifikasi dibidang akuntansi sehingga pengetahuan mereka tentang kiat-kiat menentukan HPP masih rendah. Kesadaran ini ternyatakan ketika mereka menyadari bahwa biaya yang dipakai dalam beberapa proses produksi, biaya operasional, pemasaran, dan reward kepada anggota yang mencapai penjualan belum tercatat dengan baik. Ketiadaan sistem ini menjadi urgen karena keuangan adalah dasar dari keberlanjutan dan keberlangsungan usaha. Oleh karena itu diberikan pelatihan perhitungan HPP melalui activity based costing.

Tahapan pertama yang dilakukan dalam mencapai tujuan dari pemberdayaan ini adalah sosialisasi rencana, prosedur, waktu dan penanggungjawab pelaksanaan pendampingan Tim kepada mitra dengan melibatkan semaua stakeholder. Tim telah berhasil menetapkan waktu kegiatan Bersama petani.

Selanjutnya diberikan Pelatihan dan pendampingan manajemen persediaan berbasis kemitraan dengan petani. Tim berhasil menetapkan petani yang dapat membantu mitra untuk mendapatkan bahan baku produksi Gula Aren, Jahe, dan temulawak. Kelompok tersebut akan dijadikan sebagai kelompok petani binaan.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Artikel Terkait

Kirenius C.C Watang, S.T.,M.M

- Ketua -

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Karya hadir dalam rangka memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan dan kehidupan yang layak....

Berlangganan
Banner